Apakah homoseksual dapat diubah menjadi heteroseksual?Tergantung apa penyebabnya. Kalau karena faktor sosiokultural dan lingkungan, masih bisa. Namun jika memang homoseksual tetapi ingin menikah dengan lawan jenis, sungguh tidak fair bagi pasangannya kelak.
Berikut penuturan Tn. I, seorang homoseksual yang akan menikah. Apakah dirinya benar-benar seorang homoseksual??
"Saya seorang pemuda 29 tahun, lajang. Beberapa bulan lagi saya akan menikah dengan seorang gadis. Saya sangat takut menghadapi kenyataan ini karena saya mempunyai masalah dengan perilaku seks saya. Dulu saya pernah punya pacar, tetapi akhirnya dia menikah dengan pilihan orang tuanya. Beberapa bulan kemudian, saya bertemu dengannya lagi. Sejak saat itu kami sering melakukan hubungan layaknya suami istri. Nah, beberapa waktu lalu, ketika akan berhubungan dengan dia di sebuah hotel, saya langsung lemas tak bergairah. Mulai saat itu saya tidak lagi berani mengajaknya ke hotel karena malu.
Saya akui bahwa saya memang punya kecenderungan menyukai sesama jenis. Saya punya teman akrab seorang lelaki yang sudah menikah. Hampir setiap hari kami jalan besama. Dia berbadan gemuk. Setiap saya jalan dengan dengan dia dan kebetulan kulit kami bersentuhan, saya langsung ereksi. Sepertinya ia menikmatinya juga. Begitu pun bila jalan ke mal, saya suka melihat pria berbadan gemuk, tetapi saya tidak berniat untuk berhubungan badan dengan mereka. Karena kuatnya keinginan untuk menepis perasaan yang menyimpang ini saya memutuskan sepihak pertemanan dengan sahabat saya itu. Saya takut rasa ini berlarut-larut dan susah untuk dihilangkan. Anehnya, saya malah tersiksa karena saya semakin rindu dengannya."
Referensi :
Pangkahila, 2006. Seksologi : homoseksual jangan menikah. Available at http//www.kompas.com (diakses tanggal 15 Mei 2008).

Bagian keperawatan jiwa FIK-Unpad terdiri dari beberapa dosen diantaranya : Ibu Suryani, Ibu Taty H., Ibu Aat S., Ibu Efri, Ibu Imas R., serta Bapak Iyus Yosep. Koordinator bagian keperawatan jiwa tersebut adalah ibu Suryani, SKp., MHSc. Sedangkan koordinator mata kuliah keperawatan jiwa-2 adalah Bapak Iyus Yosep, SKp., MSi.

"Foto salah satu penderita skizofrenia yang kami temui di jalan di kota Cilegon.."
Pengertian Psikoseksual
Psikoseksual berarti perkembangan dan fungsi kepribadian yang
dipengaruhi oleh seksualitas seseorang. Seksualitas merupakan proses
kompleks yang melibatkan banyak sistem tubuh, antara lain sistem
saraf, pembuluh darah dan hormonal. Selain itu, seksualitas juga
dipengaruhi oleh faktor keluarga, lingkungan sosial,
kepercayaan/agama dan penuaan. Fungsi psikoseksual yang sehat
memerlukan emosi positif atau kebahagiaan.
Kita membedakan beberapa pengertian yang berkaitan dengan
psikoseksual yang meliputi:
-
Sexual identity (identitas kelamin)
Identitas kelamin adalah kesadaran individu akan kelaki-lakiannya
atau kewanitaan tubuhnya. Hal ini tergantung pada ciri-ciri seksual
biologiknya, yaitu kromosom, genitalia interna dan eksterna,
komposisi hormonal, tetstis dan ovaria serta ciri-ciri sex sekunder.
Dalam perkembangan yang normal, maka pola ini bersatu padu sehingga
seorang individu sejak umur 2 atau 3 tahun sudah tidak ragu-ragu lagi
tentang jenis seksnya.
-
Gender identity (identitas jenis kelamin)
Identitas jenis kelamin atau kesadaran akan jenis kelamin
kepribadiannya merupakan hasil isyarat dan petunjuk yang tak
terhitung banyaknya dari pengalaman dengan anggota keluarga, guru,
kawan, teman sekerja, dan dari fenomena kebudayaan. Identitas jenis
kelamin dibentuk oleh ciri-ciri fisik yang diperoleh dari seks
biologik yang saling berhubungan dengan suatu sistem rangsangan yang
berbelit-belit, termasuk pemberian hadiah dan hukuman berkenaan
dengan hal seks serta sebutan dan petunjuk orangtua mengenai jenis
kelamin. Faktor kebudayaan dapat mengakibatkan konflik tentang
identitas jenis kelamin dengan secara ikut-ikutan memberi cap
maskulin atau feminim pada perilaku nonseksual tertentu. Umpamanya
minat seorang anak laki-laki pada kesenian atau pakaian dicap feminin
oleh orangtuanya dan mungkin ia sendiri sudah menganggap demikian.
Seorang gadis yang suka olahraga, bersaing, dan berdiri sendiri
menjadi ragu-ragu bila ia dicap maskulin.
-
Gender role behaviour (Perilaku peranan jenis kelamin)
Perilaku peranan jenis kelamin ialah semua yang
dikatakan dan dilakukan seseorang yang menyatakan bahwa dirinya itu
seorang pria atau wanita, meskipun faktor biologik penting dalam
mencapai peranan yang sesuai dengan jenis kelaminnya, faktor utama
ialah faktor belajar. Bila suami-istri menjadi tua, maka hubungan
seks memegang peranan penting dalam mempertahankan kestabilan
perkawinan. Dorongan seksual wanita meningkat antara umur 30-40 tahun
dan orgasme dapat saja dicapai sampai pada usia tua. Seorang
pria dapat melakukan aktivitas seksual sampai umur tua juga. Faktor
paling penting dalam mempertahankan seksualitas yang efektif ialah
ekspresi seksual yang aktif secara tetap.
Referensi:
Erny dan Nika. 2007. Gangguan psikoseksual. Available at
http//www.radarbanjarmasinonline.com (diakses tanggal 15 Maret 2008).
Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika
Aditama.
Teori Psikoseksual
1. Menurut Teori Libido Freud
Insting seksual dalam perkembangannya dari masa kanak-kanak menjadi dewasa melalui beberapa fase: oral, anal, falik, dan genital. Tiap fase didominasi oleh semua organ somatik. Bila pada suatu fase tertentu tuntutan tidak dipenuhi secara wajar, maka terjadilah fiksasi atau pemberhentian pada fase itu. Fiksasi pada fase oral berari bahwa selanjutnya sampai dewasa terdapat tuntutan-tuntutan akan pemuasan oral yang tak cocok dengan umur.
2. Teori Interpersonal
Memandang gangguan seksual sebagai manifestasi kekacauan hubungan anatara manusia yang dinyatakan dalam bidang seksual. Teori kebudayaan menganggap bahwa kepercayaan, adat istiadat, dan norma yang khas bagi suatu masyarakat tercermin dalam psikologi dan psikopatologi seseorang, juga dalam bidang seksual. Teori adaptasi mengatakan bahwa gangguan seksual ialah akibat ketakutan terhadap hubungan heteroseksual, bahwa ketakutan ini timbul karena pengalaman hidup yang jelek. Perilaku seksual yang patologik merupakan adaptasi pada ketakutan ini. Pendekatan lain terhadap perilaku seksual ialah penelitian sosiologik mengenai praktik seksual pria dan wanita, seperti telah dilakukan di Amerika Serikat oleh Kinsey.
3. Teori Biologis
Beberapa faktor organik telah diimplikasikan dalam etiologi dalam parafilia. Hal ini mencakup abnormalitas dalam sistem limbik otak, epilepsi lobus temporal, tumor lobus temporal, dan kadar androgen abnormal (Brarford dan McLean, 1984).
4. Teori Psikoanalitik
Pendekatan psikoanalitik mendefinisikan parafilia sebagai seseorang yang telah gagal dalam proses perkembangan normal ke arah penilaian heteroseksual (Abel, 1989). Hal ini terjadi saat individu tersebut gagal memecahkan krisis oedipal, dengan demikian mempertahankan perasaan-perasaan seksual pada orangtua yang berlawanan jenis kelamin dengan dirinya. Hal ini menghasilkan ansietas yang sangat memandu individu untuk mencari kepuasaan seksual dengan cara memberikan suatu ”pengertian yang aman” untuk orangtua (Becker dan Kovoussi, 1988).
Referensi:
Erny dan Nika. 2007. Gangguan psikoseksual. Available at http//www.radarbanjarmasinonline.com (diakses tanggal 15 Maret 2008).
Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika Aditama.
Deviasi Seksual dan Seksual Abnormal
Deviasi seksual adalah gangguan arah-tujuan seksual. Arah dan tujuan seksual dalam hal ini bukan lagi merupakan partner dari jenis kelamin yang lain dalam hubungan heteroseksual yang umumnya dianggap biasa. Cara utama untuk mendapatkan kepuasan seksual ialah dengan objek lain atau dengan cara lain dari yang pada umumnya dianggap biasa.
Deviasi seksual mungkin primer (sebabnya belum diketahui betul), mungkin sekunder (deviasi seksual hanya merupakan gejala gangguan yang diketahui, umpamanya gejala aterosklerosa otak, skizofrenia, nerosa obsesif-kompulsif, dan sebagainya) atau mungkin hanya temporer (terjadi hanya untuk sementara waktu, bila tidak ada partner heteroseksual; dalam keadaan biasa, maka cara utama pemuasan seksual ialah heterosexual biasa).
Yang dimaksud dengan deviasi seksual selanjutnya dibawah ini ialah yang primer. Akan dibicarakan sesuai dengan klasifikasi Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa ke-1 (PPDGJ-1), yaitu :
1. Homosexualitas (dan lesbianisme)
Homoseksualitas adalah keadaan seseorang yang menunjukkan perilaku seksual di antara orang-orang dari sex yang sama. Bila seseorang sudah berkali-kali menunjukkan perilaku itu, berarti bahwa sudah terbentuk suatu pola homoseksual, biarpun hal ini tidak dianggapnya sebagai pilihan utama. Istilah homoseksualitas biasanya dipakai untuk pria dan lesbianisme untuk wanita. Bila disamping perilaku homoseksual orang itu juga menunjukkan perilaku heteroseksual, maka ia disebut biseksual. Dalam hal demikian, maka orang itu mungkin lebih banyak homoseksual atau lebih banyak heteroseksual.
Seseorang transvestite atau seorang transeksual sering melakukan tindakan “homoseksual”, bukan karena mereka juga homoseksual, tetapi sebagai akibat transvestisme atau transeksualisme itu.
Berbagai teori berusaha menerangkan terjadinya homoseksualitas, tetapi tidak ada yang memuaskan seluruhnya. Orang homoseksual sering tidak datang untuk berobat dan dalam masyarakat ia dapat berfungsi biasa sebagai seorang heteroseksual. Bila ia datang berobat, maka kira-kira 30% dapat ditolong dan menjadi heteroseksual tetap. Dilakukan psikoanalisa bila mungkin atau psikoterapi yang berorientasi pada psikoanalisa, secara individual atau kelompok. Terapi perilaku dengan desensitisasi )”desentization”, “aversive” atau “negative conditioning” disusul dengan “reconditioning”, menurut laporan dapat ditolong juga).
Pencegahan dapat dilakukan dengan mengenal dan mengobati anak-anak dengan tanda-tanda feminine sebelum terjadi aktivitas sexual. Untuk mengenal ini perlu diberi penerangan kepada para orang tua, dokter, pendidik dan kaum rohaniawan.
2. Fetishisme
Fetihisme adalah keadaan seseorang yang mencari rangsangan dan pemuasan seksual dengan memakai sebagai pengganti objek seksual sebuah benda kepunyaan sex yang lain umpamanya sepatu, pakaian dalam, kaos kaki atau rambut. Penyimpangan ini diidentifikasikan dengan kekambuhan, dorongan seksual yang tinggi dan fantasi getaran seksual, lamanya paling sedikit 6 bulan menyangkut penggunaan objek-objek yang tidak hidup (APA, 1987).
Objek-objek fetihisme mencakup bra, celana dalam wanita, stoking, sepatu bot, atau pakaian-pakaian lainnya. Objek fetihismeini umumnya digunakan selama masturbasi atau dimasukan ke dalam aktivitas seksual dengan orang lain untuk menghasilkan rangangan seksual. Saat fetihisme melibatkan pertukaran pakaian, penyimpangan disebut fetihisme transvestik.
3. Pedofilia
Untuk mencapai pemuasan seksual, maka seorang pedofil memakai sebagai obyek seorang sex yang sama atau berlainan. DSM-III-R menggambarkan ciri-ciri utama dari penyimpangan ini sebagai dorongan seksual berulang dan secara seksual menimbulkan fantasi-fantasi, lamanya paling sedikit 6 bulan, meliputi aktivitas seksual dengan anak prapubertas. Usia dari penganiaya adalah 16 tahun atau lebih, dan paling sedikit 5 tahun lebih tua dari anak tersebut. Kategori parafilia ini kekerasan seksual paling banyak (Abel, 1989).
4. Transvestitisme
Transvestitisme atau transvestisme ialah keadaan seseorang yang mencari rangsangan dan pemuasan seksual dengan memakai pakaian dan berperan sebagai seorang dari sex yang berlainan.
5. Ekshibisionisme
Gejala-gejala yang mencakup kekambuhan, dorongan seksual yang tinggi dan fantasi-fantasi getaran seksual, lamanya paling sedikit 6 bulan, mencakup memamerkan alat kelamin seseorang pada orang asing (APA, 1987).
6. Voyeurisme
Keadaan dimana seseorang harus mengamati tindakan seksual dan ketelanjangan orang lain untuk memperoleh rangsangan dan pemuasan seksual. Penyimpangan ini didefinisaikan dengan dorongan seksual yang kuat dan fantasi-fantasi getaran seksual berulang, lamanya paling sedikit 6 bulan, meliputi tindkan orang-orang yang tidak dicurigai, biasanya orang asing yang telanjang, meninggalkan pakaian atau terlibat dalam aktivitas seksual (APA, 1987).
7. Sadisme dan masokhisme
Seseorang sadistic mencapai pemuasan seksualnya dengan menyakiti objek seksualnya, seorang makotis bila disakiti oleh objek seksualnya. Seorang sadist yang kemudian menjadi masokist disebut sadomakhohtist. Ciri-ciri nya adalah dorongan seksual berulang, kuat dan fantasi-fantasi seksual, lamanya paling sedikit 6 bulan, meliputi tindakan-tindakan yang menimbulkan penderitaan psikologis atau fisik korban adalah kenikmatan seksual(APA, 1987).
8. Transeksualisme
Seorang transseksual menolak jenis kelamin badaniah, tidak perduli ia dibesarkan sebagai pria atau wanita. Dapat dikatakan bahwa “jenis kelamin fisiknya”nya dan “jenis kelamin psikologisnya”nya bertentangan.
9. Devisiasi seksual lain
Seks oral (kunilingus: kontak mulut/lidah dengan alat kelamin wanita; felasio; kontak mulut dengan penis, dan analingus: kontak mulut dengan anus).
Lain-lain devisiasi seksual ialah: bestialitas atau sodomi (dengan binatang), nekrofilia(dengan mayat), froterisme(menggosokan penis pada pantat /badan wanita yang berpakaian, di tempat yang penuh sesak manusia, untuk mencapai orgasme), koprofilia (memakan feses untuk orgasme), urolagnia (dengan urin)
10. Frotteurisme
Preopulasi berulang dengan dorongan atau fantasi seksual yang kuat dengan lamanya paling sedikit 6 bulan meliputi menyentuh atau menggosik tanpa izin (APA, 1987).
Referensi:
Erny dan Nika. 2007. Gangguan psikoseksual. Available at http//www.radarbanjarmasinonline.com (diakses tanggal 15 Maret 2008).
Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika Aditama.
Faktor Predisposisi Penyimpangan Seksual
1. Faktor biologis
Penyimpangan hasrat seksual hipoaktif telah dihubungakan dengan kadar testoteron serum yang rendah pada seorang pria (Sadock, 1989), dan untuk meningkatan kadar serum prolaktin pada wanita (Segraves, 1988).
2. Faktor psikoseksual
Penyimpangan hasrat seksual dapat berhubungan dengan sejumlah konflik perkembangan awal yang telah membiarkan individu dengan hubungan bawah sadar antara impuls seksual dan perasan malu, bersalah dengan berlebihan (Sadock, 1989).
3. Pandangan Psikoanalisis
Seorang ahli mengusulkan bahwa perkembangan seksualitas secara spesifik berhubungan dengan perkembangan hubungan objek selama perkembangan fase psikoseksual.
Bila individu gagal melewati suatu masa yang harus dilewatinya, maka akan terjadi ganguan pada dirinya.
Fase-fase tersebut:
1. Fase oral/mulut(0-18 bulan)
Bahwa mulut adalah tempat pemuasan. Rasa lapar dan haus terpenuhi dengan menghisap putting susu ibunya. Kebutuhan-kebutuhan, persepsi-persepsi dan cara ekspresi bayi secara primer dipusatkan di mulut, bibir, lidah dan berhubungan dengan organ mulut.
Jika pada fase ini bayi merakan kekecewaan yang mendalam, hal ini akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Pada waktu dewasa akan mengalami gangguan tingkah laku seksual, misalnya kepribadian oral sadistic yang dimanisfestasikan dalam penyimpangan seksual sadisme, yaitu kepuasan seks yang dicapai bila didahului atau disertai dengan tindakan yang menyakitkan. Sebaliknya bila bayi mendapat kepusan yang berlebihan maka dalam perkembangan selanjutnya dapat menjadi sangat optimis narcistik (cinta diri sendiri), dan selalu menuntut.
bila bayi mendapatkan kepuasan yang berlebihan maka dalam perkembangan selanjutnya dapat menjadi sangat optimis narcistik (cinta diri sendiri), dan selalu menuntut.
2. Fase Anal (1,5 – 3 tahun).
Fase ini ditandai dengan matangnya saraf-saraf otot sphincter anus sehingga anak mulai dapat mengendalikan BAB-nya. Pada fase ini kepuasan dan kenikmatan anak terletak pada anus. Kenikmatan didapatkan pada saat menahan BAB, dan hilang setelah BAB selesai. Jika kenikmatan dalam fase ini diganggu oleh orang tuanya dengan mengatakan bahwa hasil produksinya kotor, jijik, dsb, bahkan jika disertai dengan kemarahan atau bahkan ancaman, maka hal ini dapat mengganggu perkembangan pribadi anak. Dimana pada perkembangan seksualitas dewasa anak merasa jijik (kotor) terhadap alat kelaminnya sendiri dan tidak dapat menikmati hubungan seksual dengan partnernya.
Sikap orang tua yang benar yaitu mengusahakan agar anak merasa bahwa alat kelamin dan anus serta kotoran yang dikeluarkannya adalah sesuatu yang wajar. Hal ini akan mempengaruhi pandangannya terhadap seks nantinya.
Jika terjadi hambatan pada fase ini, anak dapat mengembangkan sifat-sifat tidak konsisten, kerapian, keras kepala, kesengajaan, kekikiran yang merupakan karakter anal yang berasal dari sisa-sisa fungsi anal. Jika pertahanan terhadap sifat-sifat anak kurang efektif, karakter anal menjadi ambivalensi (ragu-ragu) berlebihan, kurang rapi, suka menentang, kasar dan cenderung sadomsokistik (dorongan untuk menyakiti dan disakiti). Karakteristik anal yang khas terlihat pada penderita obsesif kompulsif.
Fase anal yang berhasil, menyiapkan dasar untuk perkembangan kemandirian, kebebasan, kemampuan untuk menentukan perilaku sendiri tanpa rasa malu dan ragu-ragu, kemampuan untuk menginginkan kerja sama yang baik tanpa perasaan rendah diri.
3. Fase Uretral
Fase ini merupakan perpindahan dari fase anal ke fase phallus. Erotik uretral mengacu pada kenikmatan dalam pengeluaran dan penahanan air seni seperti pada fase anal. Jika fase ini tidak dapat diselesaikan dengan baik, anak akan mengembangkan sifat uretral yang menonjol, yaitu persaingan dan ambisi sebagai akibat timbulnya rasa malu karena kehilangan kontrol terhadap uretra. Jika fase ini dapat diselesaikan dengan baik, maka anak akan mengembangkan persaingan sehat, yang menimbulkan rasa bangga akan kemampuan diri. Penyelesaian konflik uretra merupakan awal dari identitas gender dan identifikasi selanjutnya.
4. Fase Phallus (3 - 5 tahun)
Pada fase ini anak melai mengerti bahwa kelaminnya berbeda dengan kakak, adik tau temannya. Anak mulai merasakan bahwa kelaminnya merupakan tempat yang memberikan kenikmatan ketika ia mempermainkan bagian tersebut. Tetapi, orang tua sering marah dan mengeluarkan ancaman bila melihat anaknya memegang atau emmpermainkan kelaminnya. Anak laki-laki dapat timbul rasa takut bahwa penisnya akan dipotong (dikebiri). Ketakutan tersebut menjadi dasar penyebab gangguan seksual seperti impotensi primer dan homoseksual.
Rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang berhubungan dengan seks tampak dalam tingkah laku anak, misalnya membuka rok ibunya, meraba buah dada atau alat kelamin orang tuanya. Daya erotik anak laki-laki terhadap ibunya, disertai rasa cenburu terhadap ayahnya, dan keinginan untuk mengganti posisi ayah di samping ibu, disebut kompleks Oedipus. Untuk anak wanita disebut kompleks Elektra, biasanya disertai rasa rendah diri karena tidak mempunyai kelamin yang sama seoerti anak laki-laki dan merasa takut jika terjadi kerusakan pada alat kelaminnya. Bila kompleks Oedipus/Elektra tidak dapat diselesaikan dengan baik dapat meyebabkan gangguan emosi pada kemudian hari.
5. Fase Latensi (5/6 – 11/13 tahun)
Pada fase ini semua aktivitas dan fantasi seksual seakan-akan tertekan. Tetapi, keingintahuan tentang seksualitas tetap berlanjut. Keterbukaan dengan orang tua dapat meluruskan informasi yang salah. Pada fase ini dapat terjadi gangguan homoseksual pada laki-laki maupun wanita. Kegagalan dalam fase ini mengakibatkan kurang berkembangnya kontrol diri sehingga anak gagal mengalihkan energinya secara efisien pada minat belajar dan pengembangan kepribadian.
6. Fase Genital (11/13 – 18 tahun)
Pada fase ini proses perkembangan psikoseksual mencapai “titik akhir”. Organ-organ seksual mulai aktif sejalan dengan mulai berfungsinya hormon-hormon seksual, sehingga saat ini terjadi perubahan fisik dan psikis. Secara fisik, perubahan yang paling nyata adalah pertumbuhan tulang dan perkembangan organ seks serta tanda-tanda seks sekunder. Perkembangan tanda seksual sekunder pada gadis adalah pertumbuhan payudara, tumbuhnya rambut pubis dan terjadinya menstruasi, pantat mulai membesar, pinggang ramping dan suara feminim. Sedangkan pada anak laki-laki terlihat buah pelir dan penis mulai membesar, tumbuhnya rambut pubis, rambut kumis, suara mulai membesar. Secara psikis, remaja mulai mengalami cinta dan tertarik pada lawan jenisnya. Kegagalan dalam fase ini mengakibatkan kekacauan identitas.
4. Pandangan Perilaku
Perspektif ini memandang perilaku seksual sebagai suatu respons yang dapat diukur dengan komponen fisiologis maupun psikologis terhadap stimulus yang dipelajari atau kejadian yang mendukung.bantuan yang diberikan untuk mengatasi masalah seksual melibatkan proses merubah perilaku melalui intervensi langsung tanpa perlu mengidentifikasi penyebab atau psikodinamikanya.
Faktor Presipitasi
Identitas seksual tidak dapat dipisahkan dari konsep diri atau gambaran tentang seseorang. Oleh karena itu, apabila terjadi suatu perubahan pada tubuh atau emosi individu, akan menyebabkan suatu perubahan dalam respons seksual individu pula. Factor presipitasi spesifik meliputi: penyakit fisik dan emosional, efek samping dari pengobatan, kecelakaan atau pembedahan, dan perubahan karena proses penuaan.
Referensi:
Erny dan Nika. 2007. Gangguan psikoseksual. Available at http//www.radarbanjarmasinonline.com (diakses tanggal 15 Maret 2008).
Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika Aditama.
Manifestasi Klinik pada Deviasi Seksual
1. Memperlihatkan alat kelamin kepada orang lain/asing.
2. Getaran seksual pada kehadiran objek-objek yang tidak hidup.
3. Menyentuh atau menggosokkan alat kelamin seseorang terhadap orang yang tidak mengizinkan.
4. Tertarik kepada atau melakukan tindakan seksual dengan anak prapubertas.
5. Getaran seksual melalui mempermalukan, memukul, melempar, atau sebaliknya untuk membuat menderita (melalui fantasi, membuat diri sendiri menderita atau dengan seorang pasangan seksual.
6. Getaran seksual dengan membuat penderitaan psikoogis atau fisik pada individu lain (baik dengan yang mengizinkan atau yang tidak mengizinkan).
7. Getaran seksual melalui memakai pakaian lawan jenis.
8. Getaran seksual melalui mengamati orang-orang yang tidak dicurigai baik yang telanjang atau terlibat dalam aktivitas seksual.
9. Masturbasi yang seringkali disertai dengan aktivitas-aktivitas yang digambarkan saat mereka melakukannya seorang diri.
10. Individu tersebut tampak sekali distress dengan aktivitas-aktivitas ini.
Referensi:
Erny dan Nika. 2007. Gangguan psikoseksual. Available at http//www.radarbanjarmasinonline.com (diakses tanggal 15 Maret 2008).
Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika Aditama.
Gangguan Skizofrenia
Pengkajian
1. Riwayat. Tinjau kembali riwayat klien untuk adanya stresor pencetus dan data yang signifikan.
· Kerentanan genetic-biologik (riwayat keluarga)
· Peristiwa hidup yang menimbulkan stress
· Hasil pemeriksaan status mental
· Riwayat psikiatrik dan kepatuhan terhadap pengobatan di masa lalu
· Riwayat pengobatan
· Penggunaan obat dan alkohol
· Riwayat pendidikan dan pekerjaan
2. Kaji klien untuk adanya gejala-gejala karakteristik
pertanyaan pengkajian keperawatan
|
PERTANYAAN |
DATA YANG DIBERIKAN |
|
· Apakah Anda percaya bahwa Anda menderita suatu penyakit? Apa penjelasan Anda mengenai penyakit Anda tersebut?
· Apakah Anda pernah dirawat sebelumnya? Apa ynag bermanfaat bagi Anda saat itu?
· Menurut Anda apa yang menjadi kelebihan Anda? Apa yang Anda anggap sebagai kesulitan-kesulitan Anda?
· Apakah Anda mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain atau melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain?
· Apakah Anda percaya bahwa seseorang atau sekelompok orang berencana untuk menentang atau mencoba menyakiti Anda?
· Obat apa yang Anda minum? Apakah Anda mengalami masalah dengan obat itu?
· Siapa yang anda anggap sebagai orang yang dapat membantu dalam hidup Anda?
· Apa aktivitas Anda sehari-hari?
· Kegiatan dan acara apa yang Anda sukai? |
Persepsi realitas
Tingkat wawasan
Riwayat masa lalu
Tingkat harga diri
Peristiwa hidup yang menimbulkan stres
Pengetahuan dasar tentang penyakit
Halusinasi
Waham
Kepatuhan terhadap medikasi
Pengetahuan dan masalah terhadap medikasi
Tingkat hubungan yang mendukung.
Proses berfikir dari segi depresi
Anhedonia
Kemampuan merawat diri |
GEJALA UMUM SKIZOFRENIA
|
PIKIRAN DAN KOMUNIKASI |
PERSEPSI DAN INTERPRETASI |
PERASAAN DAN EFEK |
PERILAKU DAN INTERAKSI |
|
Asosiasi longgar
Alogia *
Pemikiran konkret
Kurang wawasan
|
Waham
Halusinasi
Ilusi
Depersonalisasi
Bereaksi terhadap stimulus yang tidak relevan
Kemampuan rendah dalam menguji realitas |
Datar*
Tumpul
Tidak tepat |
Menarik diri dari hubungan*
Hiperaktivitas atau hipoaktivitas motorik
Ambivalensi
Anhedonia*
Avolosi *
Higiene personal yang buruk |
* Mengindikasikan gejala-gejala negatif
3. Kaji sistem pendukung keluarga dan komunitas
· Pengaturan hidup saat ini dan tingkat pengawasan
· Keterlibatan dan dukungan keluarga
· Manajer kasus atau ahli terapi
· Pertisipasi dalam program pengobatan komunitas
4. Kaji pengetahuan dasar klien dan keluarga. Kaji apakah klien dan keluarganya mempunyai pengetahuan yang cukup tentang :
· Gangguan skizofrenia
· Rekomendasi medikasi dan pengobatan
· Tanda-tanda kekambuhan
· Tindakan untuk mengurangi stres
5. Kaji klien untuk adanya efek samping medikasi antipsikotik
· Efek sistem pyramidal (extrapyramidal system ; ESE). Gunakan alat-alat tertentu, seperti skala AIMS atau skala neurological simpson, untuk melakukan pengkajian.
· Afek antikolinergik
· Efek kardiovaskuler
Referensi :
Isaacs, Ann. 2004. Panduan Belajar : Kesehatan Jiwa dan Psikiatrik. Jakarta : EGC.
Diagnosis keperawatan
1. Analisis gejala positif dan negatif
2. Analisis kekuatan dan kelemahan klien, termasuk:
· Kemampuan mengurus diri
· Sosialisasi
· Komunikasi
· Menguji realitas
· Keterampilan pekerjaan
· Sistem pendukung
3. Analisis faktor-faktor yang meningkatkan resiko ekspresi perilaku yang tidak disadari, termasuk:
· Agitasi
· Marah
· Curiga
· Adanya halusinasi yang mengancam
4. Membentuk dan memprioritaskan diagnosis keperawatan bagi klien dan keluarganya.
· Harga diri rendah, kronis
· Koping keluarga tidak efektif : memburuk
· Gangguan penatalaksanaan pemeliharaan rumah
· Koping individu tidak efektif
· Kurang pengetahuan ( sebutkan)
· Penatalaksanaan tidak efektif program terapeutik : keluarga
· Penatalaksanaan tidak efektif program terapeutik : individu
· Ketidakpatuhan
· Perubahan kinerja peran
· Kurang perawatan diri ( sebutkan)
· Perubahan sensorik/persepsi: penglihatan, pendengaran , kinestetik, pengecapan, peraba, penciuman (sebutkan)
· Perubahan proses berfikir
· Resiko kekerasan terhadap diri sendiri/orang lain.
Referensi :
Isaacs, Ann. 2004. Panduan Belajar : Kesehatan Jiwa dan Psikiatrik. Jakarta : EGC.